YBH-RI BANTU DAMPINGI SELESAIKAN KASUS NARKOTIKA JENIS TEMBAKAU GORILA DI YOGYAKARTA

Pendampingan Tim Advokat RAM & Partners Law Firm di Tempat Rehabilitasi NAPZA Galilea Yogyakarta

Narkotika, LBH-RI.Jogja –  Narkotika jenis tembakau gorila merupakan jenis narkotika yang termasuk dalam kategori yang baru dikenal oleh masyarakat Indonesia pada awal tahun 2017 lalu. Permenkes Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan Penggolongan Narkotika menyatakan bahwa tembakau gorila termasuk dalam daftar Narkotika Golongan I, maka pengguna dan/atau pengedar tembakau gorila dapat dikenakan sanksi pidana berdasarkan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Belakangan ini, pemuda-pemudi sangat rentan dengan bujukan penggunaan barang haram ini, khususnya jenis tembakau gorila. Karena bentuknya yang dapat dikemas dengan bentuk rokok, maka masyarakat awam tidak bisa membedakan antara rokok asli dan rokok yang berisi narkotika.

Dikutip dari laman www.tribunnews.com dan BNN, tembakau gorila termasuk jenis narkotika yang sangat bahaya jika dikonsumsi, dengan alasan sebagai berikut:

  • Termasuk narkoba golongan I, AB-CHMINACA
  • Mengandung ganja sintetis (synthetic cannabinoid) serbuk
  • Biasanya dikemas dalam bentuk rokok dan herbal
  • Sangat beracun bagi tubuh
  • Berefek lebih kuat daripada pengguna ganja  

Berdasarkan alasan tersebut, tembakau gorila memiliki efek samping yang sangat berbahaya bagi penggunanya, antara lain:

  • Berhalusinasi seperti ditimpa gorila
  • Tubuh terasa tidak bisa bergerak atau kaku
  • Tubuh gemetar / tremor
  • Gangguan psikiatri seperti cemas hingga ide-ide bunuh diri
  • Kerusakan parah pada ginjal dan paru-paru

Awal Juli 2019 lalu, Tim Pengacara RAM mendampingi tersangka yang terkena kasus narkotika jenis tembakau gorila di Pusat Informasi dan Rahabilitasi Galilea, yang terletak di Gabusan, Bantul, D.I.Yogyakarta. Tersangka (berinisial R, 23 tahun) tertangkap tangan oleh polisi pada akhir bulan Juni pukul 01.00 dini hari saat menggunakan narkotika jenis tembakau gorila bersama temannya (berinisil D) di kosan kediamannya di Yogyakarta.

Pada dasarnya, apabila pengguna yang memiliki narkotika tidak lebih dari 1 (satu) gram dan berdasarkan hasil tes urin positif menggunakan narkotika, maka pengguna cukup direhabilitasi saja berdasarkan waktu tertentu. Apabila, barang bukti berupa narkotika yang ditemukan oleh polisi lebih dari 1 (satu) gram, maka pengguna dapat diduga sebagai pengedar dan dapat dihukum penjara paling sedikit selama 6 tahun atau hukuman mati sesuai Pasal 114 ayat (2) Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 tentanng Narkotika yang berbunyi: “Dalam hal perbuatan menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menjadi perantara dalam jual beli, menukar, menyerahkan, atau menerima Narkotika Golongan I sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dalam bentuk tanaman beratnya melebihi 1 (satu) kilogram atau melebihi 5 (lima) batang pohon atau dalam bentuk bukan tanaman beratnya 5 (lima) gram, pelaku dipidana dengan pidana mati, pidana penjara seumur hidup, atau pidana penjara paling singkat 6 (enam) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambah 1/3 (sepertiga)”. (nqc)

Related posts

One Thought to “YBH-RI BANTU DAMPINGI SELESAIKAN KASUS NARKOTIKA JENIS TEMBAKAU GORILA DI YOGYAKARTA”

  1. Thank, Bermanfaat bangett tulisan nya kita 😍

Leave a Comment

× Apa yang bisa kami bantu?