KONTRAK BISNIS II

KONTRAK BISNIS II
Kontrak Bisnis dalam Pembuatan Perjanjian

KONTRAK BISNIS II (RESIKO, WANPRESTASI, DAN KEADAAN MEMAKSA DALAM PERJANJIAN)

Menurut Subekti (2001:144), resiko berarti kewajiban untuk memikul kerugian jika ada suatu kejadian di luar kesalahan salah satu pihak yang menimpa benda yang dimaksudkan dalam kontrak. Di sini berarti beban untuk memikul tanggung jawab dari resiko itu hanyalah kepada salah satu pihak saja, menurut penulis alangkah baiknya dalam setiap kontrak itu resiko diletakkan dan menjadi tanggung jawab kedua belah pihak.

Wanprestasi

Menurut Pasal 1234 KUHPerdata, yang dimaksud dengan prestasi adalah seseorang yang menyerahkan sesuatu, melakukan sesuatu, dan tidak melakukan sesuatu. Sebaliknya, dianggap wanprestasi bila seseorang:

  1. Tidak melakukan apa yang di sanggupi akan dilakukannya.
  2. Melaksanakan apa yang dijanjikannya, tetapi tidak sebagaimana dijanjiakan.
  3. Melakukan apa yang dijanjiakan tapi terlambat.
  4. Melakukan sesuatu yang menurut kontrak tidak boleh dilakukannya.

Akibat dari wanprestasi itu biasanya dapat dikenakan sanski berupa ganti rugi, pembatalan kontrak, peralihan resiko, maupun membayar biaya perkara.

Sebagai contoh, seorang debitur (si berutang) dituduh melakukan perbuatan melawan hukum, lalai atau secara sengaja tidak melaksanakan sesuai bunyi yang telah disepakati dalam kontrak, jika terbukti, maka debitur harus mengganti kerugian (termasuk ganti rugi, bunga, dan biaya perkaranya). Meskipun demikian, debitur bisa saja membela diri dengan alasan:

  1. Keadaan memaksa (overmacht/force majeure);
  2. Kelalaian kreditur sendiri;
  3. Kreditur telah melepaskan haknya untuk menuntut ganti rugi.

Untuk hal demikian debitur tidak harus mengganti kerugian, oleh karena itu, setiap dalam kontrak bisnis yang kita buat dapat dicantumkan juga mengenai resiko, wanprestasi, dan keadaan memaksa ini.

Keadaan Memaksa

               Menurut Subekti (2001:144), untuk dapat dikatakan suatu “keadaan memaksa”, bila keadaan itu:

  1. Di luar kekuasaannya;
  2. Memaksa; dan
  3. Tidak dapat diketahui sebelumnya.

Keadaan memaksa ada yang bersifat mutlak (absolute), contohnya bencana alam seperti banjir, gempa bumi, tanah longsor, dan lain-lain. Adapun yang bersifat relatif (relative), contohnya berupa suatu keadaan dimana kontrak masih dapat dilaksanakan, tetapi dengan biaya yang lebih tinggi, misalnya terjadi perubahan harga yang tinggi secara mendadak akibat dari regulasi pemerintah terhadap produk tertentu; krisis ekonomi yang mengakibatkan ekspor produk terhenti sementara; dan lain-lain.

(nqc)

KONTRAK BISNIS II Referensi:
Dr. Abdul R. Saliman, S.H., M.H , HUkum Bisnis Untuk Perusahaan Teori dan Contoh Kasus, Edisi Keenam, (Jakarta: Kencana, 2017), hlm. 41 – 45.

Related posts

Leave a Comment

× Apa yang bisa kami bantu?