KONTRAK BISNIS (PERJANJIAN)

Pengertian Kontrak

Kontrak atau contracts (dalam bahasa Inggris) menurut Subekti, menyatakan sebagai suatu perjanjian yang tertulis. Menurut Abdul R. Saliman, kontrak adalah peristiwa di mana dua orang tau lebih saling berjanji untuk melakukan atau tidak melakukan suatu perbuatan tertentu, biasanya secara tertulis. Para pihak yang bersepakat mengenai hal-hal yang diperjanjikan, berkewajiban untuk menaati dan melaksanakannya, sehingga perjanjian tersebut menimbulkan hubungan hukum yang disebut perikatan (verbintenis). Maka, kontrak dapat menimbulkan hak dan kewajiban bagi para pihak yang membuatnya dan kontrak tersebut mengikat secara sah dan dapat dijadikan sebagai sumber hukum formal bagi para pihak yang membuatnya.

Syarat Sahnya Kontrak

Pasal 1230 KUHPerdata, syarat sahnya kontrak sebagai salah satu betuk perjanjian tertulis dapat berupa:

  • Syarat subjektif. Syarat ini apabila dilanggar, maka dapat dibatalkan (avoid of law/vernietigbar), meliputi: a. Kecakapan untuk membuat kontrak (dewasa dan tidak sakit ingatan), dan b. Kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya.
  • Syarat objektif. Syarat ini apabila dilanggar, maka kontrak atau perjanjian tertulisnya dapat batal demi hukum (null and void at law/nietiganrechtswege), meliputi: a. Suatu hal (objek) tertentu; dan b. Suatu sebab yang halal (halal).

Asas dalam Berkontrak

Berdasarkan Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata menyatakan bahwa semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Dari bunyi pasal tersebut sangat jelas terkandung asas:

  1. Konsensualisme adalah perjanjian itu telah terjadi jika telah ada konsensus atau kesepakatan antara pihak yang mengadakan kontrak.
  2. Kebebasn berkontrak, artinya seseorang bebasa mengadakan perjanjian, bebas mengenai apa yang diperjanjiakan, bebas pula menentukan apa kontraknya.
  3. Pacta sunt servanda, artinya kontrak itu mengikat sebab berlaku sebagai undang-undang yang membuatnya.

Selain itu, terdapat asas lain dalam standar kontrak, yaitu:

  1. Asas kepercayaan.
  2. Asas persamaan hak.
  3. Asas keseimbangan.
  4. Asas moral.
  5. Asas kepatutan.
  6. Asas kebiasaan.
  7. Asa kepastian hukum.

Sumber Hukum Kontrak

Mengenai sumber hukum kontrak yang bersumber dari undang-undang dijelasakan:

  1. Persetujuan para pihak (kontrak).
  2. Undang-undang, selanjutnya yang lahir dari UU ini dapat dibagi: – Undang-undang saja. UU karena suatu perbuatan, selanjutnya yang lahir dari UU karena suatu perbuatan dapat dibagi: Yang dibolehkan (zaakwaarnaming); dan Yang berlawanan dengan hukum, misalnya seorang karyawan yang membocorkan rahasia perusahaan, meskipun dalam kontrak kerja tidak disebutkan, perusahaan dapat saja menuntut karyawan tersebut karena perbuatan itu oleh UU termasuk perbuatan yang melawan hukum (onrechtmatigedaad), dalam Pasal 1365 KUHPerdata.

Related posts

Leave a Comment

× Apa yang bisa kami bantu?